Akademik & Riset

University of Southampton Luncurkan “AI Driving License” untuk Semua Mahasiswa

14 September 2026, 06:34 WIB / Aji Krisna Bayu
Sumber gambar hasil AI

Sumber gambar hasil AI

Kampus Times- Kecerdasan buatan atau AI semakin bergeser dari teknologi khusus bidang komputer menjadi bagian dari kehidupan akademik dan profesional. Perubahan tersebut membuat perguruan tinggi menghadapi pertanyaan baru: apakah mahasiswa cukup memahami cara menggunakan AI, atau mereka juga perlu mengetahui batasan, risiko, etika, dan cara memanfaatkannya secara bertanggung jawab?

University of Southampton di Inggris mengambil pendekatan yang cukup berbeda. Kampus tersebut menyiapkan program yang disebut “AI Driving License”, sebuah konsep pembelajaran yang dianalogikan dengan lisensi mengemudi. Gagasannya adalah memberikan mahasiswa bekal dasar agar mereka dapat “mengemudikan” teknologi AI dengan pemahaman yang memadai, bukan sekadar mengandalkan kemampuan mencoba berbagai alat.

Southampton sendiri telah menempatkan AI sebagai bagian dari agenda pendidikan lintas disiplin. Situs resminya menyebut universitas tersebut sedang mengeksplorasi bagaimana AI generatif mengubah pendidikan dan menekankan bahwa peluang serta tantangan AI tidak selalu sama di setiap disiplin.

Mengapa Disebut “AI Driving License”?

Istilah “AI Driving License” menarik karena menggunakan analogi yang mudah dipahami. Seseorang tidak cukup hanya mengetahui cara menyalakan kendaraan untuk dianggap mampu berkendara. Ada aturan, situasi yang harus dikenali, risiko yang perlu dipahami, serta tanggung jawab terhadap pengguna jalan lain.

Prinsip serupa diterapkan pada AI. Mahasiswa diharapkan tidak hanya mengetahui cara membuat perintah atau prompt, tetapi juga memahami kapan AI layak digunakan, bagaimana memeriksa hasilnya, bagaimana mengenali kesalahan, serta bagaimana mempertimbangkan aspek etika dan integritas akademik.

Konsep tersebut relevan terutama bagi mahasiswa non-sains. Tidak semua mahasiswa Sejarah, Psikologi, Geografi, Humaniora, atau bidang sosial perlu menjadi programmer. Namun, hampir semua lulusan berpotensi berhadapan dengan AI dalam pekerjaan mereka.

AI Masuk ke Berbagai Disiplin Ilmu

Langkah Southampton menunjukkan perubahan penting dalam cara perguruan tinggi memandang literasi AI. AI tidak lagi harus ditempatkan sebagai mata kuliah eksklusif mahasiswa ilmu komputer.

Contohnya sudah terlihat dalam kurikulum Southampton. Universitas tersebut memiliki modul “AI Applications in Psychology” yang membahas penggunaan machine learning dan AI untuk menjawab pertanyaan dalam psikologi. Mahasiswa tidak hanya diperkenalkan pada alat AI, tetapi juga dilatih mengevaluasi manfaat, tantangan, pilihan metode, dan penggunaan AI secara bertanggung jawab dalam konteks profesional.

Pada bidang fisika, Southampton juga mengembangkan pembelajaran yang menggabungkan AI dengan keilmuan utama. Program Physics with Artificial Intelligence mencakup machine learning, analisis data, pemrograman, hingga aplikasi AI dalam fisika.

Bukan Sekadar Mengajarkan Cara Memakai AI

Hal terpenting dari pendekatan tersebut adalah pergeseran dari “AI sebagai alat” menjadi “AI sebagai kompetensi”.

Mahasiswa perlu mengetahui bahwa jawaban AI tidak otomatis benar. Model generatif dapat menghasilkan informasi yang keliru, bias, tidak lengkap, atau tidak sesuai konteks. Karena itu, kemampuan verifikasi, penalaran kritis, literasi data, dan pemahaman etika menjadi bagian penting dari literasi AI.

Pendekatan lintas disiplin juga memungkinkan AI dipelajari sesuai karakter bidang ilmu. Mahasiswa sejarah, misalnya, dapat belajar menggunakan AI untuk eksplorasi arsip dan analisis teks, tetapi tetap harus memahami persoalan sumber primer, konteks sejarah, bias, dan validitas interpretasi.

Sementara itu, mahasiswa psikologi dapat mempelajari AI melalui analisis data atau aplikasi dalam riset perilaku. Southampton bahkan memiliki modul yang membahas AI dari perspektif psikologi sekaligus menghubungkannya dengan pertanyaan metodologis dan etika.

Apakah Ilmu Komputer Akan Kehilangan Relevansi?

Kemunculan AI generatif memunculkan anggapan bahwa kemampuan pemrograman konvensional suatu hari akan semakin berkurang nilainya. Jika manusia dapat memberikan instruksi menggunakan bahasa alami untuk menghasilkan kode, kebutuhan terhadap bahasa pemrograman tradisional mungkin berubah.

Namun, perubahan tersebut tidak berarti gelar Ilmu Komputer menjadi tidak relevan. Justru ketika AI semakin mampu menghasilkan kode, pemahaman tentang algoritma, struktur data, arsitektur komputer, keamanan, sistem, dan rekayasa perangkat lunak menjadi semakin penting untuk mengevaluasi apa yang dihasilkan mesin.

Program Artificial Intelligence di Southampton sendiri tetap memberikan fondasi matematika, pemrograman, algoritma, analisis, serta prinsip sistem komputer.

Dengan kata lain, masa depan pendidikan tinggi bukan tentang menggantikan ilmu komputer dengan AI. Tantangannya adalah menggabungkan kemampuan teknis dengan kemampuan menggunakan AI secara kritis di berbagai bidang.

Pelajaran bagi Pendidikan Tinggi Indonesia

Inisiatif seperti AI Driving License memberikan gambaran bahwa literasi AI berpotensi menjadi kompetensi dasar mahasiswa, sebagaimana literasi digital sebelumnya.

Bagi perguruan tinggi Indonesia, pendekatan tersebut dapat diterjemahkan dalam bentuk yang lebih kontekstual. Universitas tidak harus membuat seluruh mahasiswa mempelajari pemrograman AI secara mendalam. Sebaliknya, mahasiswa dapat memperoleh fondasi tentang cara kerja AI, prompting, verifikasi informasi, etika, privasi, hak cipta, keamanan data, dan penggunaan AI dalam bidang masing-masing.

Model tersebut juga dapat mendorong dosen untuk mendesain ulang pembelajaran. Jika AI mampu membantu menghasilkan teks, kode, gambar, atau analisis awal, tugas akademik perlu semakin menekankan proses berpikir, argumentasi, evaluasi sumber, pemecahan masalah, dan kemampuan mempertanggungjawabkan hasil.

Kesimpulan

“AI Driving License” University of Southampton mencerminkan perubahan besar dalam pendidikan tinggi: kemampuan menggunakan AI mulai dipandang sebagai kompetensi lintas disiplin, bukan hanya keahlian mahasiswa teknologi.

Yang menarik bukan sekadar penggunaan istilah “lisensi”, tetapi gagasan di baliknya. Mahasiswa perlu belajar menggunakan AI dengan aturan, kesadaran risiko, kemampuan evaluasi, dan tanggung jawab.

Bagi perguruan tinggi, masa depan pendidikan bukan berarti setiap mahasiswa harus menjadi programmer. Namun, setiap lulusan kemungkinan membutuhkan kemampuan untuk bekerja berdampingan dengan AI secara cerdas, kritis, dan etis.

FAQ

  1. Apa itu AI Driving License University of Southampton? Program pembelajaran yang dirancang untuk membekali mahasiswa dengan pengetahuan dan keterampilan dasar menggunakan AI secara praktis, kritis, dan bertanggung jawab.
  2. Mengapa AI perlu diajarkan kepada mahasiswa non-sains? Karena AI semakin digunakan di berbagai profesi sehingga literasi AI menjadi kompetensi yang relevan lintas bidang, bukan hanya untuk programmer.
  3. Apakah Southampton sudah memiliki modul AI di luar ilmu komputer? Ya. Southampton memiliki pembelajaran seperti AI Applications in Psychology dan berbagai program yang mengintegrasikan AI dengan bidang lain.
  4. Apakah perkembangan AI membuat ilmu komputer tidak penting? Tidak. Pemahaman algoritma, arsitektur sistem, pemrograman, keamanan, dan rekayasa perangkat lunak tetap menjadi fondasi penting untuk memahami dan mengevaluasi teknologi AI.
  5. Apa pelajaran bagi perguruan tinggi Indonesia? Literasi AI dapat dikembangkan sebagai kompetensi lintas disiplin dengan materi yang mencakup penggunaan AI, verifikasi informasi, etika, privasi, keamanan data, dan penerapan sesuai bidang studi.

Topik Terkait