Akademik & Riset

3 Kerangka Metode Riset Masa Depan yang Wajib Dipahami Peneliti

29 Agustus 2026, 20:19 WIB / Anwarul Hidayat
Sumber gambar hasil AI

Sumber gambar hasil AI

Kampus Times- Memahami masa depan bukan sekadar aktivitas memprediksi apa yang akan terjadi. Dalam kajian futures research, peneliti berhadapan dengan berbagai kemungkinan, ketidakpastian, perubahan sosial, perkembangan teknologi, serta beragam perspektif mengenai masa depan.

Masalahnya, terdapat begitu banyak metode yang dapat digunakan sehingga peneliti sering kesulitan memahami hubungan antara satu metode dengan metode lainnya. Tidak ada satu kerangka kerja yang diterima secara universal untuk memetakan seluruh metode riset masa depan. Karena itu, penggunaan beberapa perspektif justru dapat membantu peneliti melihat bidang ini secara lebih komprehensif.

Mengapa Metode Riset Masa Depan Sulit Dipetakan?

Metodologi riset masa depan memiliki karakter yang sangat beragam. Sebagian metode mengandalkan data kuantitatif dan pemodelan matematis, sementara metode lainnya lebih menekankan kreativitas, intuisi, pengalaman ahli, atau partisipasi masyarakat.

Perbedaan tersebut membuat satu metode sulit ditempatkan dalam satu kategori yang benar-benar mutlak. Sebuah metode bahkan dapat memiliki fungsi berbeda tergantung bagaimana peneliti menggunakannya.

Karena itu, tujuan pemetaan bukan untuk menentukan metode mana yang paling unggul, tetapi membantu peneliti memahami karakter, fungsi, dan hubungan antarmetode.

Kerangka Pertama: Kontinum Formal hingga Heuristik

Kerangka pertama yang dirumuskan Petri Tapio memandang metode riset masa depan sebagai sebuah kontinum. Pada satu ujung terdapat pendekatan yang sangat formal dan matematis, sedangkan ujung lainnya berisi metode yang lebih heuristik dan intuitif.

Dari Model Matematis hingga Lokakarya Masa Depan

Pemodelan matematika deterministik berada pada sisi formal karena menggunakan struktur matematis dan data untuk mencari kemungkinan masa depan yang paling mungkin berdasarkan asumsi tertentu.

Sebaliknya, metode seperti Causal Layered Analysis (CLA) dan futures workshop lebih dekat dengan sisi heuristik. Pendekatan tersebut dapat mengandalkan interpretasi, intuisi, kreativitas, dan partisipasi langsung tanpa selalu bergantung pada data eksternal dalam jumlah besar.

CLA sendiri bekerja dengan menggali realitas melalui empat lapisan: litany, sistemik, worldview, serta metafora atau mitos. Pendekatan ini memungkinkan peneliti melihat sebuah persoalan tidak hanya dari gejala permukaannya, tetapi juga dari struktur dan cara pandang yang membentuknya.

Kerangka Kedua: Foresight Diamond

Perspektif kedua berasal dari Rafael Popper melalui Foresight Diamond. Kerangka ini memetakan metode berdasarkan empat dimensi utama, yaitu kreativitas (creativity), bukti (evidence), interaksi (interaction), dan keahlian (expertise).

Menariknya, kerangka tersebut tidak hanya berisi metode yang secara khusus dikembangkan untuk studi masa depan. Metode penelitian sosial seperti survei dan panel warga juga dapat ditempatkan di dalamnya.

Hal ini menunjukkan bahwa batas antara metode futures research dan metode penelitian konvensional tidak selalu kaku. Sebuah metode dapat menjadi bagian dari proses foresight selama digunakan untuk menjawab kebutuhan penelitian yang relevan.

Jangan Terjebak pada Posisi dalam Diagram

Hal terpenting dari Foresight Diamond bukan memperdebatkan apakah suatu metode berada tepat di titik tertentu. Yang lebih penting adalah memahami fungsi dari setiap dimensi.

Misalnya, sebuah metode dapat memiliki tingkat interaksi tinggi tetapi membutuhkan bukti empiris yang berbeda dibandingkan metode lainnya. Dengan memahami karakter tersebut, peneliti dapat mengombinasikan beberapa pendekatan sesuai kebutuhan.

Kerangka Ketiga: Metode Berdasarkan Tahapan Riset

Kerangka Ketiga: Metode Berdasarkan Tahapan Riset

Kerangka ketiga yang dirumuskan Marco Spinner dengan kontribusi Petri Tapio melihat metode berdasarkan fase kontribusinya dalam proses penelitian.

Secara umum, metode dapat dikaitkan dengan empat aktivitas utama: pengumpulan data, analisis data, pengorganisasian data, dan penyajian hasil.

Perspektif ini memberikan keuntungan praktis karena peneliti dapat melihat metode bukan hanya berdasarkan karakteristiknya, tetapi juga berdasarkan pekerjaan yang perlu dilakukan pada setiap tahap penelitian.

Delphi dan Futures Workshop

Metode Delphi dan futures workshop, misalnya, memiliki kontribusi kuat pada tahap pengumpulan data. Delphi biasanya melibatkan panel ahli, penyusunan pertanyaan, serta mekanisme umpan balik secara berulang untuk memperoleh pandangan mengenai suatu isu.

Namun, terdapat kesenjangan dalam literatur. Pembahasan mengenai Delphi sering sangat detail ketika menjelaskan bagaimana data dikumpulkan, tetapi relatif lebih sedikit membahas apa yang seharusnya dilakukan setelah data tersebut terkumpul.

Sementara itu, analisis morfologis lebih berkaitan dengan pengorganisasian berbagai kemungkinan dan membantu menyusun alternatif masa depan, termasuk dalam bentuk skenario.

Pertanyaan Riset Harus Menentukan Metode

Pertanyaan Riset Harus Menentukan Metode

Dari ketiga kerangka tersebut, terdapat satu prinsip yang paling penting: metode harus mengikuti tujuan penelitian.

Peneliti sebaiknya tidak memilih metode hanya karena metode tersebut sedang populer, terlihat canggih, atau sering digunakan dalam penelitian lain. Langkah pertama justru harus dimulai dengan menentukan persoalan dan pertanyaan riset.

Setelah kebutuhan penelitian dipahami, barulah peneliti menentukan metode yang paling sesuai. Dalam beberapa kasus, satu metode mungkin sudah memadai. Namun, persoalan yang kompleks dapat membutuhkan kombinasi beberapa metode agar menghasilkan pemahaman yang lebih utuh.

Prinsip ini juga menegaskan bahwa metode hanyalah alat. Seperti gagasan yang disampaikan dalam pembahasan, “methods do not think”. Metode membantu struktur berpikir, tetapi keputusan mengenai bagaimana memahami, menafsirkan, dan menggunakan hasil penelitian tetap berada pada peneliti.

Kesimpulan

Tidak adanya satu standar universal dalam pemetaan futures research methods bukan berarti bidang ini tidak memiliki struktur. Tiga kerangka—kontinum formal-heuristik Petri Tapio, Foresight Diamond Rafael Popper, serta pemetaan berdasarkan fase riset Marco Spinner dan kontribusi Petri Tapio—justru memberikan cara berbeda untuk memahami metodologi riset masa depan.

Ketiganya membantu peneliti melihat metode dari sisi karakteristik, fungsi, hingga tahapan penggunaannya. Namun, inti dari metodologi tetap berada pada kesesuaian antara pertanyaan penelitian, tujuan, konteks, dan metode yang dipilih.

Dengan demikian, peneliti tidak perlu mencari satu metode yang dianggap paling sempurna. Yang lebih penting adalah memahami apa yang ingin diketahui, kemudian memilih atau mengombinasikan metode yang paling mampu membantu menjawab pertanyaan tersebut.

FAQ

  1. Apa yang dimaksud dengan futures research methods? Futures research methods adalah berbagai pendekatan yang digunakan untuk mengeksplorasi kemungkinan, alternatif, dan perubahan masa depan secara sistematis.
  2. Apakah terdapat satu standar universal untuk memetakan metode riset masa depan? Tidak. Tidak ada satu kerangka kerja yang diterima secara umum sehingga beberapa perspektif dapat digunakan untuk memahami hubungan antarmetode.
  3. Apa itu Foresight Diamond? Foresight Diamond adalah kerangka Rafael Popper yang memetakan metode berdasarkan kreativitas, bukti, interaksi, dan keahlian.
  4. Apa fungsi metode Delphi dalam riset masa depan? Delphi terutama digunakan untuk mengumpulkan dan menyintesis pandangan dari panel ahli melalui proses pertanyaan dan umpan balik secara berulang.
  5. Bagaimana cara memilih metode riset masa depan? Pemilihan metode harus dimulai dari pertanyaan dan tujuan penelitian, kemudian disesuaikan dengan karakter masalah serta jenis informasi yang ingin diperoleh.

Topik Terkait