Akademik & Riset

AI untuk Krisis Iklim: Prediksi Badai hingga Energi Fusi

13 September 2026, 21:27 WIB / Aji Krisna Bayu
Sumber gambar hasil AI

Sumber gambar hasil AI

Kampus Times- Krisis iklim menghadirkan persoalan yang sangat kompleks. Cuaca ekstrem semakin sulit diprediksi, kebutuhan energi terus meningkat, sementara dunia membutuhkan teknologi yang mampu menekan emisi tanpa menghambat pertumbuhan ekonomi.

Di tengah tantangan tersebut, kecerdasan buatan atau AI mulai memainkan peran yang lebih strategis. Teknologi ini tidak hanya digunakan untuk menghasilkan teks, gambar, atau mengotomatisasi pekerjaan, tetapi juga membantu ilmuwan membaca pola cuaca, mengoptimalkan sistem energi, mengendalikan plasma, dan mencari material baru.

Salah satu contoh paling menarik datang dari Google DeepMind melalui WeatherNext. Model tersebut menunjukkan bagaimana AI dapat mempercepat analisis cuaca ekstrem dan membantu meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Prediksi Badai Menjadi Lebih Cepat dengan AI

Hurricane Melissa menjadi salah satu contoh penting penggunaan AI dalam prediksi siklon. Pada 2025, WeatherNext membantu National Hurricane Center atau NHC memprediksi kemungkinan badai tersebut mengalami penguatan cepat dan mencapai Jamaika.

Menurut Google DeepMind, WeatherNext memprediksi kemungkinan pendaratan sebagai badai Kategori 5 sekitar lima hari sebelumnya dengan tingkat keyakinan 80 persen. Keyakinan tersebut kemudian meningkat mendekati 100 persen tiga hari sebelum pendaratan.

Penting untuk meluruskan satu hal: klaim yang tepat bukan bahwa AI menggantikan sistem meteorologi tradisional atau bahwa Met Office sendiri mengeluarkan peringatan 24 jam lebih awal untuk Melissa. NHC tetap menjadi lembaga yang mengeluarkan prakiraan resmi, sementara UK Met Office termasuk mitra dalam pengembangan dan evaluasi teknologi AI tersebut.

Perkembangan terbaru bahkan menunjukkan WeatherNext mampu memberikan sekitar satu hari tambahan dalam akurasi prediksi siklon dibandingkan kemampuan model sebelumnya. Model tersebut juga dapat menghasilkan hingga 1.000 skenario untuk satu siklon sehingga meteorolog dapat mengevaluasi berbagai kemungkinan, bukan hanya satu prediksi tunggal.

AI Tidak Hanya Memprediksi Bencana

Potensi AI untuk menghadapi krisis iklim tidak berhenti pada prakiraan cuaca. Tantangan yang lebih mendasar berada pada sumber energi, penyimpanan listrik, jaringan distribusi, dan material yang digunakan untuk menghasilkan energi bersih.

Demis Hassabis, CEO Google DeepMind, telah menyoroti penggunaan AI untuk mengoptimalkan konsumsi energi pusat data, sistem pendinginan, jaringan listrik, serta penelitian energi fusi. Ia juga menyebut desain material baru untuk panel surya dan baterai sebagai bidang yang berpotensi menghasilkan terobosan besar.

Pendekatan ini penting karena persoalan iklim bukan hanya masalah emisi. Dunia juga membutuhkan infrastruktur energi yang lebih efisien dan mampu memenuhi permintaan listrik yang terus berkembang.

AI Membantu Mengejar Energi Fusi

Energi fusi sering disebut sebagai salah satu kandidat penting untuk sistem energi rendah karbon masa depan. Namun, menghasilkan fusi di Bumi membutuhkan pengendalian plasma pada kondisi ekstrem.

DeepMind telah menggunakan deep reinforcement learning untuk mengendalikan plasma dalam perangkat tokamak. Sistem tersebut belajar mengatur magnet untuk mempertahankan bentuk dan posisi plasma sesuai target yang ditentukan peneliti.

Pengembangan berikutnya dilakukan bersama Commonwealth Fusion Systems melalui proyek yang berkaitan dengan reaktor SPARC. DeepMind menggunakan TORAX, simulator plasma yang dapat membantu menjalankan eksperimen virtual dan mengoptimalkan berbagai parameter operasi sebelum perangkat fisik beroperasi.

Artinya, AI berpotensi mempercepat proses penelitian yang sebelumnya membutuhkan eksperimen fisik berulang. Peneliti dapat mengeksplorasi berbagai kemungkinan secara virtual sebelum memilih skenario yang paling menjanjikan untuk diuji.

Benarkah Energi AI Hanya Menjadi Masalah?

Pertumbuhan AI memang meningkatkan kebutuhan listrik pusat data. Karena itu, konsumsi energi AI tidak seharusnya diabaikan.

Namun, melihat AI hanya sebagai sumber tambahan emisi juga terlalu sederhana. Teknologi yang sama dapat digunakan untuk mengoptimalkan jaringan listrik, meningkatkan efisiensi pendinginan, memperkirakan produksi energi terbarukan, serta mempercepat pengembangan teknologi energi baru.

Inilah konteks di balik pandangan bahwa menjadikan konsumsi energi pusat data sebagai satu-satunya ukuran dampak AI terhadap iklim dapat menjadi red herring. Persoalan sebenarnya adalah apakah peningkatan kebutuhan komputasi dapat diimbangi dengan efisiensi, energi rendah karbon, dan inovasi teknologi yang menghasilkan manfaat sistemik.

AI Bukan Solusi Tunggal Krisis Iklim

Meski potensinya besar, AI tetap bukan solusi otomatis untuk krisis iklim. Model prediksi harus diuji, keputusan bencana tetap membutuhkan meteorolog dan otoritas resmi, sementara teknologi seperti fusi masih menghadapi tantangan ilmiah dan rekayasa yang besar.

Ada pula persoalan transparansi dan ketidakpastian. Model AI cuaca dapat memberikan prediksi yang sangat berguna, tetapi para peneliti masih terus mempelajari mengapa beberapa model mampu menghasilkan akurasi tinggi meskipun menggunakan data dengan resolusi yang lebih rendah dibandingkan model tradisional.

Karena itu, masa depan yang paling realistis bukan AI menggantikan ilmuwan, melainkan AI bekerja sebagai penguat kemampuan manusia. Komputasi dapat memperluas jumlah skenario yang dianalisis, sedangkan manusia tetap bertanggung jawab memahami konteks, risiko, dan keputusan akhirnya.

Kesimpulan

AI sedang berkembang menjadi salah satu instrumen penting dalam menghadapi krisis iklim. Pengalaman Hurricane Melissa menunjukkan potensinya dalam meningkatkan peringatan terhadap cuaca ekstrem, sementara penelitian DeepMind pada plasma, material, jaringan energi, dan fusi memperlihatkan kemungkinan yang jauh lebih luas.

Namun, nilai terbesar AI bukan sekadar menghasilkan prediksi lebih cepat. Dampak strategisnya terletak pada kemampuan mempercepat siklus penemuan: memprediksi, mensimulasikan, menguji, mengoptimalkan, lalu menemukan solusi baru. Jika dikombinasikan dengan ilmu pengetahuan, infrastruktur energi bersih, kebijakan publik, dan keahlian manusia, AI dapat menjadi salah satu teknologi penting dalam membangun sistem yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim.

FAQ

  1. Bagaimana AI membantu menghadapi krisis iklim? AI membantu memprediksi cuaca ekstrem, mengoptimalkan jaringan energi, menemukan material baru, serta mempercepat penelitian energi bersih seperti fusi.
  2. Apa hubungan WeatherNext dengan Hurricane Melissa? WeatherNext membantu NHC memprediksi penguatan cepat dan kemungkinan pendaratan Hurricane Melissa di Jamaika beberapa hari sebelum kejadian.
  3. Apakah AI menggantikan meteorolog? Tidak. AI berfungsi sebagai alat bantu analisis, sedangkan prakiraan dan peringatan resmi tetap berada pada lembaga meteorologi serta tenaga ahli.
  4. Bagaimana AI membantu energi fusi? AI dapat digunakan untuk mensimulasikan plasma, mencari konfigurasi operasi yang optimal, dan mengembangkan strategi pengendalian plasma secara real time.
  5. Apakah pusat data AI tetap menjadi masalah lingkungan? Ya. Konsumsi energi pusat data tetap menjadi tantangan, tetapi AI juga berpotensi meningkatkan efisiensi energi dan mempercepat pengembangan sumber energi rendah karbon.

Topik Terkait

Trending Hari Ini