News

Buku Konseling Multikultural Hadirkan Perspektif Cinta, Moderasi, dan Kearifan Lokal

9 September 2026, 09:21 WIB / Tutut Septia Wati
Buku Konseling Multikultural Hadirkan Perspektif Cinta, Moderasi, dan Kearifan Lokal

Buku Konseling Multikultural Hadirkan Perspektif Cinta, Moderasi, dan Kearifan Lokal

Kampus Times- Perkembangan masyarakat di era digital menghadirkan perubahan besar dalam cara manusia berinteraksi, membangun relasi, dan menghadapi persoalan kehidupan. Di tengah keberagaman agama, etnis, budaya, serta nilai sosial, pendekatan konseling dituntut semakin mampu memahami manusia secara utuh.

Persoalan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam buku berjudul “Konseling Multikultural Berbasis Cinta dan Moderasi di Era Digital: Paradigma Gastronomi dan Kearifan Lokal Nusantara” karya Dr. Dudy Imanuddin Effendi, M.Ag., MQM.

Buku tersebut diterbitkan oleh PABKI Press dan mengangkat gagasan pengembangan konseling multikultural dengan memadukan perspektif psikologis, sosial, spiritual, budaya, serta perkembangan kehidupan digital.

Kehadiran buku ini menjadi menarik karena konseling tidak hanya dilihat sebagai proses membantu individu menyelesaikan persoalan pribadi. Konseling juga ditempatkan dalam konteks masyarakat yang memiliki latar belakang budaya dan nilai yang beragam.

Tantangan Konseling di Tengah Masyarakat Multikultural

Dalam daftar pembahasannya, buku ini terlebih dahulu menguraikan tantangan multikulturalisme pada era globalisasi. Fenomena intoleransi, polarisasi sosial, defisit empati, kekerasan simbolik, hingga krisis kemanusiaan menjadi bagian dari persoalan yang perlu mendapatkan perhatian.

Perubahan teknologi digital turut memperluas kompleksitas tersebut. Dunia virtual memungkinkan manusia berinteraksi tanpa batas geografis, tetapi pada saat yang sama dapat memunculkan persoalan seperti keterasingan sosial, kesepian virtual, krisis identitas, dan gangguan relasi.

Kondisi itu menunjukkan bahwa konselor membutuhkan perspektif yang tidak hanya berorientasi pada persoalan individual. Pemahaman terhadap budaya, lingkungan sosial, spiritualitas, dan pengalaman hidup konseli menjadi semakin penting.

Cinta dan Moderasi Menjadi Landasan Penting

Salah satu gagasan utama yang ditawarkan buku ini adalah menjadikan cinta dan moderasi sebagai bagian dari fondasi konseling multikultural.

Cinta dalam konteks tersebut tidak sebatas hubungan emosional. Cinta diposisikan sebagai nilai kemanusiaan yang dapat mendorong empati, kepedulian, penghargaan terhadap sesama, dan kemampuan menerima perbedaan.

Sementara itu, moderasi menjadi pendekatan untuk membangun keseimbangan dalam menghadapi keberagaman. Nilai seperti keadilan, keseimbangan, toleransi, keterbukaan, dan penghormatan terhadap perbedaan menjadi bagian dari pembahasan.

Pendekatan tersebut memperluas fungsi konseling. Konselor bukan hanya membantu konseli memahami dirinya, tetapi juga dapat menjadi fasilitator terciptanya hubungan sosial yang lebih harmonis.

Kearifan Lokal Nusantara dalam Konseling

Menghubungkan budaya dengan praktik konseling

Bagian penting lainnya adalah pengembangan konseling berbasis local wisdom atau kearifan lokal.

Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat besar. Setiap komunitas memiliki nilai, tradisi, pola hubungan sosial, serta cara tersendiri dalam memandang kehidupan. Kekayaan tersebut dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bagian dari pendekatan konseling yang sesuai dengan konteks masyarakat.

Buku ini secara khusus membahas pendekatan konseling berbasis sejumlah budaya, antara lain Sunda, Jawa, Batak, Bugis, Melayu, Madura, Betawi, Minangkabau, dan Banjar.

Pembahasan tersebut memperlihatkan bahwa konseling multikultural dapat dikembangkan dari pengalaman masyarakat Indonesia sendiri, bukan semata-mata mengadopsi teori dari konteks budaya lain.

Filosofi Gastronomi sebagai Metafora

Keunikan buku ini juga terlihat dari penggunaan gastronomi kuliner rakyat Indonesia sebagai metafora dalam pengembangan teori konseling multikultural.

Salah satu pembahasannya mengangkat makanan “Bala-Bala” sebagai representasi gastronomi sosial masyarakat Sunda. Buku tersebut juga memperkenalkan pembahasan mengenai Teori Gastronomis Kapurung Luwu (TGKL) serta Teori Gastronomis Es Campur Sunda (TGES).

Gastronomi digunakan untuk menggambarkan keberagaman dan hubungan antarelemen yang berbeda. Seperti makanan yang tersusun dari berbagai bahan dengan karakteristik masing-masing, masyarakat multikultural juga terdiri atas individu dan kelompok yang memiliki identitas serta latar belakang berbeda.

Metafora tersebut menjadi pendekatan yang menarik untuk menjelaskan konsep koeksistensi, sinergi, pluralitas, relasi, dan harmoni dalam konseling multikultural.

Membaca Krisis Manusia di Era Digital

Buku ini juga memberikan perhatian terhadap krisis manusia modern di era digital. Pembahasannya mencakup krisis ontologis, epistemologis, dan aksiologis.

Krisis ontologis berkaitan dengan persoalan keberadaan dan keterhubungan manusia dengan Tuhan serta alam. Sementara krisis epistemologis membahas persoalan pengetahuan yang kehilangan dimensi kasih dan nilai kemanusiaan.

Pada sisi lain, krisis aksiologis berkaitan dengan melemahnya orientasi terhadap nilai dan cinta. Dalam situasi ketika teknologi berkembang sangat cepat, manusia tetap membutuhkan kebijaksanaan untuk menentukan bagaimana teknologi digunakan secara manusiawi.

Perspektif tersebut menjadi relevan bagi dunia konseling karena perkembangan digital turut mengubah pola komunikasi dan hubungan interpersonal.

Relevan untuk Mahasiswa dan Praktisi Konseling

Dengan cakupan pembahasan tersebut, buku ini berpotensi menjadi bahan bacaan bagi mahasiswa bimbingan dan konseling, psikologi, pendidikan, akademisi, konselor, serta pemerhati isu sosial dan budaya.

Selain membahas landasan filosofis, buku ini juga memberikan perhatian pada transformasi paradigma konseling, moderasi beragama, spiritualitas, kearifan lokal, hingga tantangan konseling dalam kehidupan digital.

Prakata buku ditulis oleh Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., yang pada sampul buku dicantumkan sebagai Menteri Agama Republik Indonesia.

Informasi Pemesanan Buku

Bagi pembaca yang tertarik mendalami konsep konseling multikultural berbasis cinta dan moderasi, buku ini dapat menjadi salah satu referensi untuk memahami hubungan antara konseling, budaya, spiritualitas, moderasi, dan kehidupan masyarakat Indonesia.

Informasi pemesanan:
Mewra — WhatsApp: +62 858-9065-4879

Nomor tersebut dapat dihubungi bagi pembaca yang ingin mengetahui ketersediaan buku, harga, serta informasi pemesanan. Sebaiknya konfirmasi terlebih dahulu mengenai detail pembelian sebelum melakukan transaksi.

Kesimpulan

Konseling Multikultural Berbasis Cinta dan Moderasi di Era Digital menawarkan perspektif bahwa praktik konseling perlu berkembang mengikuti kompleksitas masyarakat. Keberagaman budaya, perubahan teknologi, persoalan relasi sosial, dan kebutuhan spiritual manusia menjadi aspek yang semakin penting untuk diperhatikan.

Melalui integrasi cinta, moderasi, spiritualitas, gastronomi, dan kearifan lokal Nusantara, buku karya Dr. Dudy Imanuddin Effendi, M.Ag., MQM. tersebut menghadirkan gagasan mengenai konseling yang lebih dekat dengan konteks masyarakat Indonesia.

Bagi dunia pendidikan dan praktik konseling, pendekatan ini sekaligus mengingatkan bahwa memahami manusia tidak cukup hanya melalui teori, tetapi juga membutuhkan empati, penghargaan terhadap keberagaman, serta pemahaman terhadap nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat.

FAQ

  1. Apa judul buku yang dibahas? Konseling Multikultural Berbasis Cinta dan Moderasi di Era Digital: Paradigma Gastronomi dan Kearifan Lokal Nusantara.
  2. Siapa penulis buku tersebut? Buku ini ditulis oleh Dr. Dudy Imanuddin Effendi, M.Ag., MQM.
  3. Apa saja yang dibahas dalam buku ini? Pembahasannya mencakup konseling multikultural, cinta, moderasi, spiritualitas, era digital, gastronomi, serta kearifan lokal berbagai budaya Nusantara.
  4. Siapa yang dapat membaca buku ini? Buku ini relevan bagi mahasiswa, dosen, akademisi, konselor, praktisi pendidikan, dan pemerhati isu budaya serta sosial.
  5. Bagaimana cara mendapatkan buku tersebut? Pembaca yang ingin membeli dapat menghubungi Mewra melalui WhatsApp di nomor +62 858-9065-4879 untuk memperoleh informasi pemesanan.

Topik Terkait