Akademik & Riset

Geopolitik AI Global: AS-China Bersaing, Eropa Dihadapkan Dilema Regulasi

13 September 2026, 21:35 WIB / Aji Krisna Bayu
Sumber gambar hasil AI

Sumber gambar hasil AI

Kampus Times- Persaingan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini berkembang menjadi persoalan geopolitik. Amerika Serikat dan China berada di posisi terdepan dalam perlombaan membangun model AI, infrastruktur komputasi, perusahaan teknologi, hingga ekosistem riset yang dapat menentukan arah perkembangan teknologi dunia.

Namun, persaingan tersebut tidak hanya menyangkut kemampuan menghasilkan model AI paling kuat. Negara juga berlomba menentukan standar keamanan, aturan penggunaan, akses terhadap teknologi, serta siapa yang memiliki pengaruh terhadap tata kelola AI global.

Di sinilah posisi negara-negara kekuatan menengah menjadi penting. Inggris, Prancis, Kanada dan sejumlah negara lain memiliki modal riset serta institusi akademik yang kuat, tetapi tidak mempunyai skala industri teknologi sebesar AS atau China.

Dilema Eropa: Regulasi atau Inovasi?

Salah satu persoalan terbesar Eropa adalah bagaimana menjaga perlindungan masyarakat tanpa membuat inovasi teknologi tertinggal. Uni Eropa dikenal mengambil pendekatan berbasis risiko melalui regulasi AI, sementara ekosistem teknologi AS bergerak sangat agresif dalam investasi dan komersialisasi.

Demis Hassabis, CEO Google DeepMind, sebelumnya menekankan pentingnya keseimbangan tersebut. Dalam pandangan yang dikaitkan dengan pembicaraannya bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron, sebuah negara tidak cukup hanya mengejar posisi sebagai “juara dunia” dalam regulasi apabila tidak memiliki kekuatan inovasi teknologi yang sebanding.

Pesan tersebut relevan bagi Eropa. Regulasi memang diperlukan untuk mengendalikan risiko AI, tetapi regulasi tidak otomatis menciptakan perusahaan teknologi, pusat data, talenta, model bahasa besar, atau kemampuan komputasi.

Kajian akademik mengenai tata kelola teknologi strategis Uni Eropa juga menunjukkan adanya ketegangan antara perlindungan warga dan kekhawatiran terhadap regulasi yang terlalu preskriptif. Tantangannya adalah menemukan titik keseimbangan agar aturan dapat melindungi masyarakat sekaligus tidak menghambat perkembangan teknologi.

Mengapa Regulasi Saja Tidak Cukup?

Dalam geopolitik teknologi, kemampuan membuat aturan merupakan bentuk kekuatan, tetapi bukan satu-satunya bentuk kekuatan. Negara yang memiliki teknologi, talenta, modal, infrastruktur komputasi, dan perusahaan AI juga memiliki daya tawar lebih besar dalam menentukan standar global.

Karena itu, Eropa menghadapi dilema strategis. Jika terlalu longgar, masyarakat menghadapi risiko penyalahgunaan AI. Sebaliknya, jika terlalu berat mengatur sebelum industri domestik berkembang, Eropa berisiko menjadi pasar bagi teknologi yang dibuat di negara lain.

Inggris, Prancis, dan Kanada sebagai Kekuatan Penyeimbang

Di tengah dominasi AS dan China, muncul peluang bagi negara-negara kekuatan menengah untuk membangun posisi tersendiri. Inggris, Prancis, dan Kanada memiliki basis penelitian AI yang kuat serta pengalaman dalam membangun kebijakan teknologi dan keselamatan AI.

Ketiganya dapat berfungsi sebagai semacam moderate bulwark atau blok penyeimbang. Bukan untuk menyaingi AS dan China secara langsung dalam skala industri, melainkan membangun pengaruh melalui riset, keamanan AI, standar teknis, dan kerja sama internasional.

Inggris telah memainkan peran penting dalam diplomasi keselamatan AI sejak AI Safety Summit di Bletchley Park pada 2023. Dalam forum tersebut, 28 negara, termasuk AS, China, Prancis, Kanada, dan Uni Eropa, menyepakati pentingnya kerja sama internasional menghadapi risiko AI frontier.

Kerja sama Inggris dan Kanada kemudian diperkuat melalui kemitraan penelitian keselamatan AI. Kedua negara sepakat memperdalam kolaborasi, termasuk pertukaran keahlian, akses sumber daya komputasi, serta penelitian mengenai keselamatan sistemik AI.

Kekuatan Akademik sebagai Modal Geopolitik

Keunggulan negara-negara tersebut bukan semata jumlah perusahaan teknologi. Universitas, laboratorium penelitian, ilmuwan, serta lembaga keselamatan AI dapat menjadi modal strategis.

Dalam perkembangan AI, pengetahuan dasar dan kemampuan mengevaluasi risiko sama pentingnya dengan kemampuan mengembangkan produk komersial. Karena itu, negara yang mampu menguasai riset dapat tetap memiliki pengaruh meskipun tidak menjadi pusat industri AI terbesar.

China dan Model AI yang Lebih Terbuka

China memiliki pendekatan yang berbeda. Selain mengejar kemampuan model AI, perusahaan dan ekosistem teknologi China juga menunjukkan kecenderungan lebih terbuka melalui pengembangan model yang dapat digunakan dan dikembangkan lebih luas.

Pendekatan open-source atau open-weight dapat menjadi instrumen geopolitik karena mempercepat penyebaran teknologi ke berbagai negara. Model yang lebih terbuka dapat mengurangi ketergantungan terhadap perusahaan AI Barat dan memberikan alternatif bagi negara-negara yang tidak ingin sepenuhnya bergantung pada teknologi AS.

Namun, keterbukaan tersebut juga membawa persoalan keamanan. Model AI yang semakin mudah diakses dapat dimanfaatkan untuk berbagai tujuan, termasuk aktivitas berbahaya. Karena itu, pemerintah China juga mempunyai kepentingan besar untuk mencegah risiko AI berkembang menjadi persoalan keamanan nasional atau bencana yang sulit dikendalikan.

Perdebatan ini menunjukkan bahwa open AI bukan sekadar isu teknis. Ia telah menjadi bagian dari kompetisi geopolitik, ekonomi, dan keamanan.

Apa Artinya bagi Negara Kekuatan Menengah?

Persaingan AI AS-China memberikan pelajaran penting bagi negara yang berada di luar dua pusat kekuatan tersebut. Menjadi konsumen teknologi saja akan membuat posisi tawar semakin lemah.

Negara kekuatan menengah perlu membangun kapasitas sendiri melalui pendidikan, penelitian, infrastruktur digital, komputasi, pendanaan startup, dan kebijakan yang mampu mempertemukan kampus dengan industri.

Pada saat yang sama, regulasi tidak seharusnya dipandang hanya sebagai instrumen pembatas. Regulasi yang dirancang dengan baik dapat menciptakan kepercayaan publik dan memberikan kepastian bagi industri.

Tantangannya adalah memastikan aturan berkembang bersama kemampuan teknologi. Negara yang berhasil melakukan keduanya akan memiliki posisi lebih kuat dalam menentukan masa depan AI.

Kesimpulan

Geopolitik AI global sedang bergerak menuju persaingan yang semakin kompleks. Amerika Serikat dan China memang menjadi dua kekuatan utama, tetapi ruang strategis masih terbuka bagi Inggris, Prancis, Kanada dan negara kekuatan menengah lainnya.

Pelajaran terpenting dari perkembangan ini adalah regulasi dan inovasi tidak seharusnya dipertentangkan. Negara membutuhkan aturan untuk mengendalikan risiko AI, tetapi juga membutuhkan kemampuan teknologi agar tidak hanya menjadi pembuat aturan bagi teknologi yang dikembangkan pihak lain.

Pada akhirnya, masa depan geopolitik AI tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki model paling pintar. Pengaruh juga akan ditentukan oleh siapa yang mampu menguasai riset, talenta, komputasi, keamanan, regulasi, dan kerja sama internasional secara bersamaan.

FAQ

  1. Mengapa AI menjadi isu geopolitik global? AI memengaruhi ekonomi, keamanan nasional, industri, informasi, dan kemampuan militer sehingga penguasaannya menjadi bagian dari persaingan antarnegara.
  2. Apa dilema utama Eropa dalam pengembangan AI? Eropa harus menyeimbangkan perlindungan masyarakat melalui regulasi dengan kebutuhan mempertahankan inovasi dan daya saing teknologi.
  3. Mengapa Inggris, Prancis, dan Kanada dianggap penting? Ketiganya memiliki kekuatan riset dan akademik yang dapat digunakan untuk membangun pengaruh dalam keselamatan, standar, dan tata kelola AI.
  4. Mengapa China mengembangkan AI yang lebih terbuka? Model yang lebih terbuka dapat memperluas penggunaan teknologi, memperkuat ekosistem domestik, dan menyediakan alternatif terhadap dominasi teknologi AS.
  5. Apa pelajaran bagi negara kekuatan menengah? Negara perlu membangun kemampuan inovasi, riset, talenta, infrastruktur, dan regulasi secara bersamaan agar tidak hanya menjadi konsumen teknologi AI.

Topik Terkait

Trending Hari Ini