Kampus Times- Sebelum menjadi salah satu laboratorium kecerdasan buatan paling berpengaruh di dunia, DeepMind merupakan perusahaan rintisan yang dibangun di London. Demis Hassabis bersama Shane Legg dan Mustafa Suleyman mendirikannya pada 2010 dengan gagasan yang ketika itu terdengar sangat ambisius: menciptakan sistem kecerdasan buatan yang mampu belajar secara umum.
DeepMind sejak awal tidak sekadar diposisikan sebagai perusahaan teknologi biasa. Pendekatannya menggabungkan machine learning, ilmu saraf, matematika, komputasi, dan penelitian tentang cara manusia belajar. Google sendiri mencatat bahwa DeepMind sejak awal menggunakan pendekatan interdisipliner untuk mengejar pengembangan artificial general intelligence atau AGI.
Pilihan membangun perusahaan di London juga penting. Hassabis melihat Inggris memiliki basis ilmiah dan talenta akademik yang kuat. Lingkungan universitas seperti Cambridge dan UCL menyediakan peneliti dengan kemampuan matematika, fisika, ilmu komputer, dan ilmu saraf yang sangat dibutuhkan untuk membangun teknologi AI generasi awal.
Menarik Talenta Sains ke Dunia Teknologi
Salah satu persoalan yang ingin dijawab DeepMind adalah bagaimana mempertahankan talenta ilmiah agar tetap mengerjakan persoalan sains yang mereka minati.
Bagi sebagian lulusan PhD, jalur karier dengan kompensasi tinggi tersedia di industri keuangan, termasuk hedge funds. DeepMind menawarkan alternatif: menggunakan kemampuan kuantitatif dan ilmiah tersebut untuk mengembangkan teknologi yang memiliki tujuan penelitian jangka panjang.
Strategi tersebut menjadi bagian penting dari identitas DeepMind. Perusahaan tidak hanya mencari programmer, tetapi juga ilmuwan dan peneliti yang tertarik memecahkan persoalan fundamental mengenai kecerdasan.
Mengapa DeepMind Akhirnya Diakuisisi Google?
Pertumbuhan AI membutuhkan sesuatu yang sangat mahal: komputasi. Model machine learning semakin kompleks dan membutuhkan chip, pusat data, penyimpanan, serta infrastruktur yang tidak mudah dibiayai oleh perusahaan rintisan pada tahap awal.
Di sinilah Google memiliki keunggulan yang sulit disaingi. Ketika Google mengakuisisi DeepMind pada 2014, perusahaan tersebut sudah memiliki infrastruktur komputasi berskala global sekaligus kemampuan finansial untuk membiayai penelitian jangka panjang.
Google mengonfirmasi akuisisi tersebut pada Januari 2014. Nilai transaksi yang dilaporkan media berada di kisaran ratusan juta dolar, dengan The Guardian melaporkan sekitar £400 juta atau sekitar US$650 juta pada saat itu.
Bagi Google, DeepMind juga menawarkan aset yang sangat strategis: talenta AI. Saat itu, perusahaan teknologi besar sedang berlomba mendapatkan peneliti terbaik di bidang machine learning dan deep learning. Akuisisi tersebut membantu Google memperkuat posisi dalam kompetisi AI yang semakin intensif.
Bukan Sekadar Persoalan Harga Akuisisi
Dilema DeepMind sebenarnya lebih besar daripada persoalan berapa harga perusahaan tersebut. Pertanyaannya adalah apakah Inggris memiliki ekosistem pembiayaan yang mampu membuat perusahaan teknologi ilmiah tumbuh hingga menjadi pemain global.
Dalam narasi yang dikaitkan dengan Hassabis, kebutuhan investasi komputasi DeepMind berada pada skala yang sangat besar dibandingkan kemampuan pendanaan pasar modal Inggris pada saat itu. Karena itu, sumber daya Google menjadi jalan yang lebih realistis untuk mengejar agenda penelitian.
Keputusan tersebut kemudian menghasilkan konsekuensi besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
Dari DeepMind hingga AlphaFold
Setelah berada di bawah Google, DeepMind mampu mengembangkan proyek-proyek yang sebelumnya sulit dibayangkan dapat dilakukan perusahaan rintisan kecil. Salah satu tonggak terpentingnya adalah AlphaFold, sistem AI yang mampu memprediksi struktur tiga dimensi protein.
AlphaFold kemudian membawa dampak besar terhadap penelitian biologi dan kedokteran. Pada 2024, Demis Hassabis dan John Jumper menerima Nobel Kimia bersama David Baker atas kontribusi mereka terhadap pemahaman dan prediksi struktur protein.
Bagi Hassabis, nilai keberhasilan tersebut tidak semata-mata dapat diukur melalui valuasi perusahaan. AlphaFold telah digunakan oleh jutaan peneliti di berbagai negara dan menjadi salah satu contoh bagaimana AI dapat berfungsi sebagai alat untuk mempercepat penemuan ilmiah.
Di titik ini, keputusan menjual DeepMind kepada Google terlihat dari perspektif berbeda. Akuisisi memberikan perusahaan akses terhadap sumber daya yang memungkinkan penelitian dengan horizon jauh lebih panjang.
Dilema Bursa Efek London dan Masa Depan AI Inggris
Kisah DeepMind sekaligus membuka persoalan struktural mengenai Bursa Efek London atau London Stock Exchange (LSE).
Inggris memiliki universitas, ilmuwan, dan perusahaan teknologi dengan kemampuan kelas dunia. Namun, kemampuan menghasilkan perusahaan teknologi belum selalu diikuti kemampuan menyediakan modal dalam skala yang dibutuhkan untuk membawa perusahaan tersebut tumbuh secara mandiri.
Masalahnya menjadi semakin relevan ketika perusahaan teknologi Inggris mempertimbangkan IPO. Sebagian perusahaan memilih pasar Amerika Serikat karena dianggap memiliki investor teknologi, kedalaman modal, dan valuasi yang lebih mendukung perusahaan dengan pertumbuhan tinggi.
Kritik terhadap ekosistem tersebut bukan berarti LSE tidak memiliki peran. Persoalannya adalah bagaimana pasar modal Inggris dapat menjembatani tahap ketika perusahaan telah membuktikan teknologinya tetapi membutuhkan investasi sangat besar untuk melakukan ekspansi global.
Perdebatan ini masih relevan hingga sekarang. Pemerintah Inggris bahkan terus mencari cara untuk memperkuat pendanaan perusahaan teknologi dan AI agar perusahaan yang lahir di Inggris tidak harus bergantung pada modal asing ketika memasuki fase pertumbuhan besar.
Pelajaran dari Kisah DeepMind
Kisah DeepMind menunjukkan bahwa inovasi teknologi tidak hanya ditentukan oleh kualitas ilmuwan. Infrastruktur komputasi, modal jangka panjang, ekosistem venture capital, pasar saham, dan kemampuan mempertahankan talenta sama-sama menentukan apakah sebuah perusahaan dapat berkembang.
Ironisnya, Inggris berhasil melahirkan salah satu perusahaan AI paling berpengaruh, tetapi sebagian besar sumber daya yang memungkinkan pertumbuhan spektakulernya datang melalui perusahaan Amerika Serikat.
Karena itu, persoalan DeepMind bukan hanya sejarah sebuah startup. Ini adalah studi kasus tentang bagaimana negara dengan tradisi sains kuat dapat kehilangan sebagian nilai ekonominya ketika tidak memiliki ekosistem modal yang mampu mengikuti kebutuhan teknologi frontier.
Kesimpulan
DeepMind berawal dari London pada 2010 dengan ambisi ilmiah yang jauh melampaui kemampuan sebuah startup biasa. Akuisisi Google pada 2014 memberikan akses terhadap modal, talenta, dan infrastruktur komputasi yang memungkinkan riset AI berkembang ke tingkat yang lebih besar.
Keberhasilan AlphaFold dan penghargaan Nobel menunjukkan bahwa keputusan tersebut menghasilkan dampak ilmiah yang luar biasa. Namun, kisah ini sekaligus menjadi cermin bagi Inggris: memiliki ilmuwan dan perusahaan teknologi kelas dunia belum cukup jika ekosistem modal domestik tidak mampu mempertahankan dan membesarkan perusahaan tersebut.
Pada akhirnya, dilema DeepMind memperlihatkan satu persoalan penting dalam ekonomi inovasi: siapa yang menyediakan modal untuk mengubah keunggulan ilmiah menjadi kekuatan teknologi dan ekonomi nasional?
FAQ
- Kapan DeepMind didirikan? DeepMind didirikan di London pada 2010 oleh Demis Hassabis, Shane Legg, dan Mustafa Suleyman.
- Kapan Google mengakuisisi DeepMind? Google mengakuisisi DeepMind pada 2014 dalam transaksi yang dilaporkan bernilai ratusan juta dolar.
- Mengapa Google tertarik membeli DeepMind? Google membutuhkan dan ingin memperkuat kemampuan AI-nya, sementara DeepMind memiliki talenta serta teknologi machine learning yang sangat strategis pada saat kompetisi AI mulai meningkat.
- Apa kontribusi terbesar DeepMind terhadap sains? Salah satu kontribusi terbesarnya adalah AlphaFold, teknologi AI untuk memprediksi struktur protein yang kemudian berkontribusi pada penelitian biologi dan kimia serta mendapat pengakuan Nobel Kimia 2024.
- Apa masalah yang disoroti dari Bursa Efek London? Salah satu persoalan utamanya adalah kemampuan pasar modal Inggris menyediakan pendanaan berskala besar bagi perusahaan teknologi yang sedang tumbuh cepat sehingga sebagian perusahaan memilih mencari modal dan melakukan IPO di Amerika Serikat.