Akademik & Riset

Mendesain Ulang Sekolah: Mengapa Kesejahteraan Siswa Harus Jadi Prioritas

2 September 2026, 11:49 WIB / Anwarul Hidayat
Sumber gambar hasil AI

Sumber gambar hasil AI

Kampus Times- Sekolah sering dipandang sebagai tempat untuk meningkatkan prestasi akademik. Nilai, peringkat, ujian, dan pencapaian menjadi ukuran yang begitu dominan sehingga kesejahteraan siswa dan guru terkadang berada di urutan berikutnya.

Padahal, pendidikan tidak hanya bertujuan membuat anak memperoleh nilai tinggi. Sekolah juga seharusnya menjadi lingkungan yang membantu siswa berkembang secara intelektual, sosial, emosional, dan fisik. Tantangannya semakin besar ketika sekolah harus menghadapi tekanan kompetisi, krisis kesehatan mental, serta perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang mengubah cara anak belajar.

Ketika Prestasi Tidak Selalu Berarti Bahagia

Salah satu paradoks pendidikan terlihat dalam hubungan antara kekayaan negara dan kepuasan hidup. Jika orang dewasa cenderung memiliki tingkat kepuasan hidup lebih tinggi seiring meningkatnya kekayaan suatu negara, pola tersebut tidak selalu berlaku bagi remaja berusia 15 tahun.

Tekanan akademik dan persaingan yang semakin tinggi dapat membuat sekolah terasa seperti pressure cooker. Anak tidak hanya menghadapi tuntutan untuk memahami materi, tetapi juga tekanan untuk mendapatkan nilai terbaik, masuk sekolah atau universitas tertentu, serta memenuhi ekspektasi orang tua dan lingkungan.

Data mengenai kesejahteraan anak menunjukkan bahwa negara seperti Belanda, Denmark, dan Prancis termasuk yang berada di posisi teratas berdasarkan indikator yang mencakup kesehatan mental dan fisik, kemampuan dasar seperti literasi dan numerasi, serta kemudahan anak membangun pertemanan.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa kualitas pendidikan tidak seharusnya dinilai hanya berdasarkan pencapaian akademik.

AI Mengubah Cara Siswa Belajar

Perkembangan AI menambah persoalan baru. Lebih dari 80% remaja di Amerika Serikat dilaporkan menggunakan AI untuk membantu menyelesaikan tugas sekolah.

Persoalannya bukan semata-mata apakah siswa menggunakan AI, melainkan bagaimana mereka menggunakannya.

Penggunaan AI secara luas dan pasif (wide use), misalnya sekadar meminta chatbot memberikan jawaban, dapat mengurangi kesempatan siswa untuk melakukan proses berpikir sendiri. Jika kebiasaan tersebut berlangsung terus-menerus, kemampuan kognitif yang seharusnya dilatih melalui usaha mandiri berisiko tidak berkembang secara optimal.

Sebaliknya, penggunaan AI secara sempit dan terarah (narrow use) dapat menjadi alat pembelajaran yang bermanfaat. Guru dapat mengarahkan AI untuk memberikan pertanyaan pemantik, simulasi, umpan balik, atau penjelasan alternatif tanpa mengambil alih seluruh proses berpikir siswa.

Berpikir Tidak Bisa Sepenuhnya Diwakilkan AI

Berpikir Tidak Bisa Sepenuhnya Diwakilkan AI

Prinsip pentingnya sederhana: belajar berpikir membutuhkan proses berpikir yang dilakukan sendiri.

Seperti halnya seseorang tidak dapat belajar mengendarai sepeda hanya dengan menonton orang lain melakukannya, siswa juga tidak akan mengembangkan kemampuan berpikir mendalam jika seluruh proses penalaran selalu dilakukan oleh teknologi.

Karena itu, sekolah membutuhkan aturan dan desain pembelajaran yang membuat AI menjadi alat pendukung, bukan jalan pintas yang menghilangkan proses belajar.

Istirahat dan Bermain Bukan Pemborosan

Ada pula persoalan yang tampak sederhana tetapi memiliki dampak besar: waktu istirahat.

Dalam dua dekade terakhir, sekitar 40% distrik sekolah di Amerika Serikat dilaporkan mengurangi atau menghapus waktu recess. Alasannya terdengar logis, yakni memperbanyak waktu belajar agar prestasi akademik meningkat.

Namun, logika tersebut mengabaikan kebutuhan biologis dan psikologis anak. Aktivitas fisik dan jeda mental dapat membantu siswa kembali berkonsentrasi dan lebih siap mengikuti pembelajaran.

Bermain Membantu Anak Belajar Bersosialisasi

Pembelajaran berbasis permainan juga memberikan manfaat yang tidak selalu dapat diperoleh melalui pembelajaran formal. Baik permainan bebas maupun permainan yang dirancang dengan tujuan tertentu dapat membantu anak berkolaborasi, bernegosiasi, menyelesaikan konflik, dan memahami perspektif orang lain.

Dengan demikian, bermain bukan lawan dari belajar. Dalam perkembangan anak, keduanya justru dapat berjalan beriringan.

Sekolah yang terlalu padat tanpa memberikan ruang untuk bergerak, berinteraksi, dan beristirahat berisiko menciptakan lingkungan yang melelahkan bagi siswa.

Kesejahteraan Guru Adalah Masalah Sistem

Perhatian terhadap siswa tidak dapat dipisahkan dari kondisi guru. Hubungan guru dan siswa merupakan salah satu elemen paling penting dalam pendidikan, tetapi guru sering bekerja dalam tekanan yang tinggi.

Mereka dituntut mengajar, menilai, mendiagnosis kebutuhan siswa, mengelola kelas, menyelesaikan administrasi, dan memberikan respons terhadap puluhan siswa dalam waktu yang terbatas.

Karena itu, meningkatkan kualitas pendidikan tidak cukup hanya dengan meminta guru bekerja lebih keras. Sistem perlu menyediakan waktu persiapan, kesempatan kolaborasi, team teaching, dan waktu istirahat yang memadai.

Ketika guru mengalami kelelahan kronis, kualitas interaksi dengan siswa juga berpotensi terdampak. Sebaliknya, guru yang memiliki dukungan sistemik dapat lebih fokus membangun hubungan pembelajaran yang bermakna.

“When you strip away all the things that make education education, the thing that is left is ... a teacher-student relationship.”

Dari Achiever Mode ke Explorer Mode

Dari Achiever Mode ke Explorer Mode

Sekolah tradisional cenderung mendorong siswa masuk ke achiever mode. Mereka belajar untuk mendapatkan nilai, menyelesaikan tugas, dan memenuhi indikator keberhasilan.

Masalahnya, lingkungan yang terlalu berorientasi pada pencapaian dapat membuat siswa takut mengambil risiko. Kesalahan dianggap sebagai kegagalan, bukan sebagai bagian dari proses menemukan sesuatu.

Dalam dunia yang dipenuhi AI, kemampuan untuk menjadi explorer justru semakin penting. Siswa perlu memiliki rasa ingin tahu, berani bereksperimen, mengajukan pertanyaan, dan memiliki kendali atas perjalanan belajarnya sendiri.

Namun, kondisi tersebut masih jauh dari ideal. Data yang dibahas menunjukkan bahwa kurang dari 4% siswa SMP dan SMA di Amerika Serikat melaporkan bahwa mereka secara rutin berada dalam explorer mode. Sementara itu, sekitar 10% siswa kelas 3 hingga kelas 12 berada dalam passenger mode, yakni mengikuti proses pendidikan dengan keterlibatan dan usaha yang minimal.

Situasi tersebut menunjukkan perlunya perubahan mendasar dalam desain sekolah, bukan sekadar penambahan teknologi baru.

Kesimpulan

Masa depan pendidikan tidak cukup dibangun dengan menambah perangkat digital atau memasukkan AI ke dalam kelas. Yang lebih penting adalah mendesain ulang pengalaman belajar agar siswa dapat berkembang tanpa kehilangan kesehatan mental, rasa ingin tahu, kesempatan bermain, dan hubungan manusiawi dengan guru.

AI perlu digunakan secara terarah agar membantu siswa belajar, bukan menggantikan proses berpikir mereka. Waktu istirahat perlu dipandang sebagai bagian dari pembelajaran, sementara kesejahteraan guru harus menjadi prioritas sistem pendidikan.

Pada akhirnya, sekolah perlu bergerak dari sekadar mencetak achiever menuju pembentukan explorer. Anak-anak masa depan tidak hanya membutuhkan kemampuan menjawab pertanyaan, tetapi juga keberanian mengajukan pertanyaan baru, mencoba, gagal, belajar kembali, dan menemukan jalan mereka sendiri.

FAQ

  1. Mengapa kesejahteraan siswa penting dalam pendidikan? Kesejahteraan memengaruhi kesehatan mental, kemampuan belajar, hubungan sosial, dan perkembangan siswa secara keseluruhan sehingga tidak dapat dipisahkan dari prestasi akademik.
  2. Apakah penggunaan AI dapat merusak kemampuan berpikir siswa? Penggunaan AI yang pasif dan tidak terarah berisiko mengurangi latihan berpikir mandiri, sedangkan penggunaan yang terarah dapat mendukung proses belajar.
  3. Mengapa waktu bermain penting bagi anak? Bermain memberikan kesempatan untuk bergerak, beristirahat secara mental, berkolaborasi, menyelesaikan konflik, dan memahami perspektif orang lain.
  4. Mengapa kesejahteraan guru harus diperhatikan? Guru memiliki peran sentral dalam hubungan pembelajaran, sehingga beban kerja berlebihan dan kelelahan dapat memengaruhi kualitas interaksi serta pembelajaran siswa.
  5. Apa yang dimaksud explorer mode dalam pendidikan? Explorer mode adalah kondisi ketika siswa belajar dengan rasa ingin tahu, berani mengambil risiko, mengeksplorasi ide, dan memiliki dorongan pribadi untuk menguasai proses belajarnya.

Topik Terkait