Akademik & Riset

AS Terancam Kehilangan Kepemimpinan Sains dari Tiongkok, Momen Sputnik Baru Dimulai

3 September 2026, 18:22 WIB / Anwarul Hidayat
Sumber gambar hasil AI

Sumber gambar hasil AI

Kampus Times- Selama puluhan tahun, Amerika Serikat dikenal sebagai salah satu pusat utama kemajuan sains, teknologi, dan inovasi dunia. Namun, posisi tersebut kini tidak lagi bisa dianggap sebagai sesuatu yang otomatis bertahan. Persaingan dengan Tiongkok menunjukkan bahwa keunggulan ilmiah dapat berubah ketika sebuah negara mampu menggabungkan investasi, talenta, industri, dan kebijakan strategis dalam skala besar.

Dr. Harvey Fineberg menggambarkan kondisi tersebut sebagai semacam “Momen Sputnik” abad ke-21. Istilah ini merujuk pada situasi ketika sebuah negara menyadari bahwa kompetitornya telah mencapai kemajuan yang berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan global.

Masalahnya bukan hanya siapa yang memiliki ekonomi terbesar atau militer terkuat. Kepemimpinan dalam sains dan teknologi juga menentukan siapa yang memiliki kemampuan untuk membentuk masa depan manusia.

Pergeseran Dominasi Teknologi Semakin Jelas

Data yang disampaikan dalam pembahasan menunjukkan betapa cepatnya perubahan tersebut. Berdasarkan data Australian Strategic Policy Institute (ASPI), pada periode 2003–2007 Amerika Serikat memimpin 60 dari 64 domain teknologi yang diamati, sedangkan Tiongkok hanya unggul di tiga domain.

Namun, situasinya berubah drastis pada periode 2019–2023. Tiongkok tercatat memimpin dalam 57 domain, sementara AS hanya unggul dalam tujuh domain lainnya.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa persaingan teknologi tidak lagi sekadar mengenai beberapa sektor seperti manufaktur atau elektronik. Tiongkok telah membangun kapasitas yang luas di berbagai bidang teknologi strategis.

Paten Menjadi Indikator Penting

Perubahan tersebut juga terlihat dari aktivitas inovasi. Pada 2021, Tiongkok melampaui AS dalam jumlah pengajuan paten global baru. Pada 2023, jumlah paten yang diterbitkan Tiongkok bahkan lebih dari 25 persen lebih banyak dibandingkan AS.

Dalam bidang kecerdasan buatan, kesenjangan tersebut semakin terlihat. Penemu asal Tiongkok mengajukan sekitar enam kali lebih banyak paten AI dibandingkan penemu AS selama periode 2014–2023.

Yang tidak kalah penting adalah munculnya talenta muda. Dalam kompetisi biologi sintetis iGEM tingkat universitas, enam dari sepuluh universitas terbaik berasal dari Tiongkok. Pada tingkat sekolah menengah, tujuh dari sepuluh tim terbaik juga berasal dari sekolah Tiongkok.

Investasi Sains AS Mengalami Tekanan

Salah satu persoalan mendasar yang disoroti adalah menurunnya proporsi investasi federal AS untuk penelitian. Porsi anggaran riset non-pertahanan terhadap pengeluaran diskresioner federal turun dari sekitar 8,5 persen pada 2001 menjadi sekitar 5,6 persen saat ini.

Persoalan tersebut menjadi semakin serius jika dibandingkan dengan perkembangan Tiongkok.

Pada 2000, AS menghabiskan sekitar delapan kali lebih banyak untuk R&D dibandingkan Tiongkok. Namun pada 2024, investasi sains Tiongkok yang diukur berdasarkan paritas daya beli untuk pertama kalinya melampaui AS.

Jika tren tersebut berlanjut, OECD memproyeksikan pengeluaran R&D Tiongkok dapat melampaui AS lebih dari 30 persen pada 2030.

Pesannya sederhana: keunggulan ilmiah tidak dapat dipertahankan tanpa investasi yang konsisten.

James Frick pernah menyampaikan prinsip yang relevan dengan persoalan ini: “Jangan beri tahu saya di mana prioritas Anda. Tunjukkan ke mana Anda membelanjakan uang Anda.”

Dengan kata lain, prioritas nasional bukan hanya terlihat dari pidato pemerintah, tetapi dari sumber daya yang benar-benar dialokasikan.

Mengapa Infrastruktur dan Industri Menjadi Penentu?

Persaingan teknologi pada akhirnya membutuhkan kemampuan untuk mengubah penelitian menjadi produk dan infrastruktur nyata.

Contohnya terlihat pada sektor otomotif. Xiaomi mampu mengembangkan mobil listrik SU7 dalam sekitar tiga tahun dengan biaya sekitar US$3 miliar. Sebaliknya, proyek mobil otonom Apple, Project Titan, dihentikan setelah sekitar satu dekade dengan biaya yang diperkirakan mencapai US$10 miliar.

Perbedaan kecepatan juga terlihat dalam pembangunan infrastruktur. Jalur kereta cepat Beijing–Shanghai sepanjang sekitar 800 mil diselesaikan dalam tiga tahun, sementara proyek kereta cepat San Francisco–Los Angeles yang disetujui pemilih pada 2008 belum meletakkan satu mil rel dan menghadapi estimasi biaya sekitar US$128 miliar.

Hal ini menunjukkan bahwa keunggulan teknologi tidak hanya bergantung pada kemampuan menemukan sesuatu yang baru. Kemampuan membangun, memproduksi, dan menerapkannya dalam skala besar juga sangat menentukan.

Lima Strategi untuk Memulihkan Kepemimpinan AS

Lima Strategi untuk Memulihkan Kepemimpinan AS

Untuk menghadapi perubahan tersebut, AS membutuhkan strategi jangka panjang. Salah satu usulan utama adalah mempertahankan komitmen investasi setidaknya 6 persen per tahun selama 12 tahun agar pemulihan kapasitas ilmiah tidak berhenti sebagai program jangka pendek.

Prioritas teknologi nasional juga perlu ditentukan dengan lebih jelas. Penerapan AI untuk mempercepat berbagai bidang sains menjadi salah satu area yang dapat memberikan dampak lintas disiplin.

Menarik Talenta Terbaik Dunia

Strategi berikutnya adalah memperkuat kembali imigrasi berbasis prestasi. Selama bertahun-tahun, universitas dan industri AS memperoleh manfaat dari kedatangan ilmuwan, peneliti, mahasiswa, dan profesional berbakat dari berbagai negara.

Karena itu, membangun talenta domestik harus berjalan bersamaan dengan kemampuan menarik talenta global.

Memperluas Sumber Pendanaan

Pendanaan sains juga tidak harus sepenuhnya bergantung pada pemerintah. Sektor swasta dan filantropi dapat menjadi sumber pembiayaan tambahan untuk penelitian fundamental dan proyek jangka panjang.

Pertumbuhan Science Philanthropy Alliance, dari hanya enam anggota ketika Fineberg bergabung dengan Gordon and Betty Moore Foundation menjadi lebih dari 40 anggota, menunjukkan meningkatnya perhatian filantropi terhadap sains.

Persaingan Ini Juga Menyangkut Sistem Nilai

Di balik persaingan teknologi AS dan Tiongkok terdapat pertanyaan yang lebih besar: sistem nilai seperti apa yang akan membentuk dunia masa depan?

Tiongkok menunjukkan bahwa sistem otoriter yang dipadukan dengan kapitalisme negara mampu menghasilkan kemajuan material dalam skala besar. Infrastruktur, industri, energi bersih, dan sejumlah sektor teknologi berkembang dengan kecepatan tinggi.

Karena itu, keberhasilan AS mempertahankan kepemimpinan sains bukan sekadar persoalan prestise nasional. Ada pertaruhan mengenai apakah model yang menekankan kebebasan, demokrasi, keterbukaan, dan supremasi hukum masih mampu menghasilkan inovasi yang kompetitif.

Fineberg mengingatkan bahwa tidak ada negara yang memiliki jaminan supremasi permanen. Status sebagai kekuatan global tidak dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya tanpa investasi dan pembaruan kebijakan.

Kompetisi Tidak Berarti Harus Berhenti Berkolaborasi

Kompetisi Tidak Berarti Harus Berhenti Berkolaborasi

Meskipun persaingan AS dan Tiongkok semakin intensif, tidak semua bidang harus diperlakukan sebagai perlombaan zero-sum.

Masalah seperti perubahan iklim, kesehatan global, dan keberlanjutan perikanan laut membutuhkan kerja sama lintas negara. Tantangannya adalah menentukan teknologi mana yang berkaitan langsung dengan keamanan nasional dan harus dilindungi, serta teknologi mana yang justru akan berkembang lebih cepat melalui kolaborasi internasional.

Pendekatan semacam ini memungkinkan kompetisi strategis tetap berjalan tanpa mengorbankan kepentingan umat manusia secara keseluruhan.

Kesimpulan

Persaingan sains dan teknologi antara AS dan Tiongkok telah memasuki fase baru. Data mengenai R&D, paten, talenta, manufaktur, energi, hingga infrastruktur menunjukkan bahwa keunggulan Amerika Serikat tidak lagi dapat dianggap sebagai sesuatu yang permanen.

“Momen Sputnik” baru bukan sekadar peringatan mengenai kebangkitan Tiongkok, tetapi pengingat bahwa kepemimpinan ilmiah membutuhkan investasi jangka panjang, kebijakan yang konsisten, talenta terbaik, dan kemampuan menerjemahkan penelitian menjadi inovasi nyata.

Pada akhirnya, pilihan yang dihadapi AS bukan sekadar apakah ingin mempertahankan posisi nomor satu. Seperti pertanyaan Fineberg, apakah sebuah negara ingin memenangkan perlombaan atau hanya puas kalah lebih lambat? Jawaban atas pertanyaan tersebut akan ikut menentukan sistem nilai dan arah teknologi yang membentuk dunia dalam beberapa dekade mendatang.

FAQ

  1. Mengapa kondisi ini disebut Momen Sputnik baru? Disebut demikian karena AS menghadapi situasi ketika kemajuan kompetitor menunjukkan bahwa keunggulan ilmiah dan teknologi Amerika tidak lagi aman, sehingga diperlukan respons strategis besar seperti setelah peluncuran Sputnik pada era Perang Dingin.
  2. Apakah Tiongkok sudah mengalahkan AS dalam semua bidang teknologi? Belum. Namun, data ASPI yang dibahas menunjukkan Tiongkok telah memimpin dalam 57 dari 64 domain teknologi strategis pada periode 2019–2023, sementara AS memimpin tujuh domain.
  3. Mengapa investasi R&D sangat penting dalam persaingan teknologi? Penelitian membutuhkan pendanaan jangka panjang untuk membangun laboratorium, menghasilkan penemuan baru, mengembangkan talenta, dan mengubah hasil riset menjadi teknologi yang dapat digunakan secara luas.
  4. Apa strategi utama yang dapat dilakukan AS? Strateginya mencakup investasi sains jangka panjang, penetapan prioritas teknologi nasional, penguatan pendidikan dan talenta domestik, menarik talenta global, serta memperluas pendanaan melalui sektor swasta dan filantropi.
  5. Apakah AS dan Tiongkok masih perlu bekerja sama? Ya. Meskipun bersaing dalam teknologi strategis, kedua negara tetap memiliki kepentingan bersama dalam menghadapi persoalan global seperti perubahan iklim, kesehatan, dan keberlanjutan lingkungan.

Topik Terkait