News

KKN Tematik Kelompok 14 UMP dan PKK Tumenggungan Olah Sekam Padi Jadi Briket Bernilai Ekonomi

27 Agustus 2026, 18:19 WIB / Tutut Septia Wati
KKN Tematik Kelompok 14 UMP dan PKK Tumenggungan Olah Sekam Padi Jadi Briket Bernilai Ekonomi

KKN Tematik Kelompok 14 UMP dan PKK Tumenggungan Olah Sekam Padi Jadi Briket Bernilai Ekonomi

Purworejo, Kampus Times- Pemanfaatan limbah pertanian menjadi produk yang memiliki nilai guna terus berkembang di berbagai wilayah pedesaan. Salah satu inovasi yang menarik adalah pengolahan sekam padi menjadi briket sebagai alternatif bahan bakar.

Upaya tersebut turut diperkenalkan melalui kegiatan KKN Tematik Kelompok 14 Universitas Muhammadiyah Purworejo bersama PKK Desa Tumenggungan. Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat untuk mengembangkan pemanfaatan potensi lokal secara lebih produktif.

Sekam padi dipilih karena merupakan salah satu limbah yang mudah ditemukan di wilayah pertanian. Jika tidak dikelola dengan baik, sekam dapat menumpuk dan hanya dianggap sebagai sisa produksi. Melalui pengolahan menjadi briket, limbah tersebut diarahkan menjadi bahan yang memiliki manfaat lebih luas.

Kegiatan yang dilakukan bersama masyarakat juga menunjukkan bahwa inovasi sederhana dapat dikembangkan dari sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar. Pendekatan semacam ini penting karena pemberdayaan masyarakat tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang kompleks.

Kolaborasi Mahasiswa dan PKK Desa Tumenggungan

Keterlibatan PKK menjadi salah satu unsur penting dalam kegiatan pemanfaatan sekam padi ini. Kelompok masyarakat tersebut memiliki posisi strategis dalam mendorong keterampilan dan aktivitas produktif yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, mahasiswa KKN Tematik berperan membawa gagasan, pengetahuan, serta pendampingan selama proses kegiatan. Kolaborasi tersebut menciptakan proses pembelajaran dua arah, karena mahasiswa tidak hanya memberikan pengetahuan kepada masyarakat, tetapi juga belajar memahami potensi dan kebutuhan desa secara langsung.

Dalam kegiatan tersebut, peserta terlihat melakukan praktik pengolahan bahan di lingkungan masyarakat. Peralatan dan bahan yang digunakan menunjukkan proses pengenalan pembuatan briket secara praktis sehingga peserta dapat memahami tahapan pengolahan secara lebih konkret.

Mengenalkan Energi Alternatif dari Limbah

Briket sekam padi pada dasarnya merupakan salah satu bentuk pemanfaatan biomassa. Bahan sisa dari aktivitas pertanian dapat diolah dan dipadatkan menjadi bahan bakar yang lebih mudah digunakan dibandingkan ketika sekam masih berbentuk limbah.

Pengenalan teknologi sederhana seperti ini memiliki nilai edukatif karena masyarakat diajak melihat limbah bukan hanya sebagai sesuatu yang harus dibuang. Sekam padi dapat dipandang sebagai sumber daya yang masih memiliki potensi apabila mendapatkan pengolahan yang tepat.

Konsep tersebut juga sejalan dengan pentingnya ekonomi sirkular di tingkat lokal. Limbah dari satu kegiatan dapat dimanfaatkan kembali untuk menghasilkan produk baru sehingga penggunaan sumber daya menjadi lebih efisien.

Bagi masyarakat desa yang memiliki aktivitas pertanian cukup kuat, pengembangan produk berbasis limbah lokal dapat menjadi salah satu alternatif inovasi. Terlebih apabila keterampilan tersebut dikembangkan secara konsisten dan disertai pengelolaan produksi yang baik.

Potensi Ekonomi bagi Masyarakat

Selain aspek lingkungan, pengolahan sekam padi menjadi briket memiliki potensi dari sisi ekonomi. Produk yang awalnya berasal dari limbah dapat dikembangkan menjadi barang yang memiliki nilai jual apabila kualitas, kemasan, pemasaran, dan keberlanjutan produksinya diperhatikan.

Peluang tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi pengembangan usaha berbasis masyarakat. PKK maupun kelompok masyarakat lainnya dapat mengeksplorasi kemungkinan produksi dalam skala kecil terlebih dahulu sebelum dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi yang lebih luas.

Namun, pengembangan briket tidak berhenti pada proses pembuatannya. Diperlukan pemahaman mengenai kualitas bahan baku, teknik produksi, daya tahan produk, keamanan penggunaan, hingga strategi pemasaran agar inovasi tersebut benar-benar dapat memberikan manfaat ekonomi.

Karena itu, kegiatan KKN dapat menjadi tahap awal untuk memperkenalkan gagasan sekaligus membangun kesadaran masyarakat terhadap peluang yang tersedia di lingkungan mereka.

Dari Program KKN Menjadi Inovasi Berkelanjutan

Salah satu tantangan dalam program pemberdayaan masyarakat adalah memastikan inovasi tetap berjalan setelah kegiatan pendampingan selesai. Program KKN akan memberikan dampak yang lebih kuat apabila pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat diteruskan oleh masyarakat secara mandiri.

Dalam konteks pemanfaatan sekam padi, keberlanjutan dapat dilakukan melalui pengembangan kelompok produksi, pencatatan biaya, peningkatan kualitas produk, serta pengenalan pemasaran berbasis digital. Dengan demikian, kegiatan tidak hanya menghasilkan pengalaman selama mahasiswa berada di desa, tetapi juga membuka peluang pengembangan usaha setelah program berakhir.

Kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat juga dapat terus diperluas. Pendampingan lanjutan, riset sederhana, pengembangan kemasan, hingga strategi pemasaran dapat menjadi tahapan berikutnya untuk memperkuat potensi briket sekam padi sebagai produk lokal.

Pemberdayaan Berbasis Potensi Lokal

Kegiatan KKN Tematik Kelompok 14 Universitas Muhammadiyah Purworejo bersama PKK Desa Tumenggungan memperlihatkan bahwa pemberdayaan masyarakat dapat dimulai dari persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Sekam padi yang sebelumnya dipandang sebagai limbah dapat diperkenalkan sebagai bahan yang memiliki potensi untuk dimanfaatkan kembali. Dari sinilah muncul nilai penting sebuah inovasi: bukan semata-mata menciptakan sesuatu yang baru, tetapi menemukan cara baru untuk memanfaatkan sumber daya yang sudah tersedia.

Bagi mahasiswa, kegiatan semacam ini juga menjadi pengalaman menerapkan pengetahuan di tengah masyarakat. Bagi masyarakat, kegiatan tersebut dapat menjadi tambahan wawasan sekaligus membuka perspektif mengenai peluang pemanfaatan limbah pertanian.

Kesimpulan

Kolaborasi KKN Tematik Kelompok 14 Universitas Muhammadiyah Purworejo dan PKK Desa Tumenggungan dalam pengolahan briket sekam padi menjadi contoh pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal.

Pemanfaatan sekam sebagai bahan briket tidak hanya berkaitan dengan pengurangan limbah pertanian, tetapi juga membuka ruang edukasi mengenai energi alternatif, keterampilan masyarakat, dan peluang ekonomi. Agar manfaatnya berkelanjutan, inovasi tersebut perlu dikembangkan melalui pendampingan, peningkatan kualitas produk, serta strategi pemasaran yang tepat.

Pada akhirnya, kekuatan inovasi desa tidak selalu terletak pada teknologi yang rumit. Sumber daya sederhana seperti sekam padi pun dapat menjadi titik awal untuk menciptakan manfaat lingkungan, sosial, dan ekonomi ketika dikelola melalui kolaborasi yang tepat.

FAQ

  1. Apa itu briket sekam padi? Briket sekam padi adalah bahan bakar biomassa yang memanfaatkan sekam padi sebagai bahan utama melalui proses pengolahan dan pemadatan.
  2. Siapa yang terlibat dalam kegiatan pembuatan briket sekam padi di Desa Tumenggungan? Kegiatan tersebut melibatkan KKN Tematik Kelompok 14 Universitas Muhammadiyah Purworejo bersama PKK Desa Tumenggungan.
  3. Mengapa sekam padi dimanfaatkan sebagai bahan briket? Sekam padi merupakan limbah pertanian yang tersedia di wilayah penghasil padi dan masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai biomassa.
  4. Apa manfaat kegiatan tersebut bagi masyarakat? Kegiatan memberikan wawasan dan keterampilan mengenai pemanfaatan limbah pertanian sekaligus mengenalkan peluang pengembangan produk bernilai ekonomi.
  5. Apakah briket sekam padi dapat dikembangkan menjadi usaha? Berpotensi, terutama jika didukung kualitas produk yang konsisten, produksi berkelanjutan, pengelolaan biaya, kemasan menarik, dan strategi pemasaran yang tepat.

Topik Terkait